Senin, 07 Mei 2012

Mengenali Cara Kerja Alat-alat Kesehatan Sebagai Tindakan PPGD


Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) merupakan tindakan awal yang harus segera diberikan kepada korban/ pasien pada saat kondisi darurat. Tindakan ini merupakan pertolongan awal sebagai tindakan pencegahan agar kondisi korban tidak semakin parah, sebelum pada akhirnya mendapatkan penanganan dari pihak medis.
Jika ditinjau dari contoh kasus yang terjadi, PPGD memiliki banyak sekali macam. Di antaranya PPGD korban patah tulang, luka bakar, benda tertelan, korban tenggelam, digigit ular, bahkan PPGD kepada korban dalam kondisi kritis ketika menderita beberapa penyakit tertentu. Sebagai contoh saja ketika orang tua kita menderita tekanan darah tinggi atau mungkin adik kita menderita demam. Tentunya akan lebih praktis jika kita mampu mengetahui tanda-tanda dari kondisi tersebut. Apalagi jika kita mampu menentukan bahwa orang tua atau sanak saudara kita sedang mengalami kondisi tersebut.
Berdasar kasus itulah maka Saka Bakti Husada Kwarran Pesanggaran berusaha memberikan pengetahuan dasar seputar alat-alat kesehatan agar setidaknya ada bekal untuk melakukan tindakan pertama terhadap beberapa gangguan kesehatan yang sekiranya membutuhkan beberapa penanganan agar tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk. Pengenalan alat-alat kesehatan ini digunakan sebagai langkah PPGD terhadap beberapa kasus yang telah dicontohkan seperti di atas.


Termometer
Dalam dunia medis, termometer digunakan untuk mengukur suhu badan. Catatan suhu yang tertera dalam termometer digunakan sebagai acuan untuk mengetahui kondisi seseorang sedang menderita demam, hypotermia, atau mungkin beberapa kondisi/ penyakit yang lain. Secara umum suhu tubuh normal seseorang berkisar antara 36 – 38 ºC. Jika suhu tubuh seseorang jauh lebih besar atau lebih kecil dari pedoman suhu normal tersebut, maka bisa dikatakan seseorang tersebut sedang mengalami gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan dengan segera.
Cara pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer yakni dengan meletakkan ujung termometer pada lipatan ketiak atau pada mulut. Secara umum penggunaan termometer raksa maupun digital sama. Tunggu hingga kurang lebih 5 menit. Namun dari kedua cara tersebut dianjurkan untuk memakai cara pertama saja. Sebab memasukkan ujung termometer ke dalam mulut dikhawatirkan akan penularan berbagai bibit penyakit yang mungkin bisa ditimbulkan dari termometer yang kurang steril. Apalagi jika termometer tersebut digunakan secara bergantian. 

Stetoskop
Stetoskop digunakan untuk memeriksa denyut nadi atau denyut jantung. Cara penggunaannya pun sangat mudah. Tinggal meletakkan bagian kepala stetoskop pada dada atau pada daerah-daerah dengan denyut nadi yang mudah teraba seperti lipatan siku, pangkal leher, dsb. Denyut ini dapat dengan mudah diketahui melalui alat pendengar yang ada pada stetoskop.






Tensimeter
Tensimeter memiliki banyak jenis di antaranya tensimeter raksa, jarum, digital, dsb. Keseluruhannya memiliki banyak keunggulan dan kekurangan. Namun dari keseluruhan jenis tensimeter yang ada, cara penggunaannya pun pada dasarnya sama.
Sebagai alat pengukur tekanan darah, tensimeter merupakan media praktis yang dapat digunakan. Untuk bisa menggunakan tensimeter ini, kembali kita membutuhkan bantuan stetoskop sebagai alat penentu tekanan darah seseorang. Caranya adalah sebagai berikut:
  • Tutup dahulu skrup pada balon pemompa hingga rapat
  • Pasang manset pada lengan atas kira-kira 3 cm di atas lipatan siku. Pemasangan manset tidak boleh terlalu ketat/ terlalu longgar dan jangan dipasang di bawah baju
  • Pompa balon tensi sambil letakkan tiga jari pada pembuluh nadi yang terletak di lipatan siku
  • Setelah denyut nadi tidak terasa maka hentikan pemompaan dan letakkan kepala stetoskop pada lipatan siku tersebut
  • Buka skrup pengunci perlahan sambil mengamati jarum tensimeter dan suara pada stetoskop
  • Ketika terdengar suara detakan untuk pertama kalinya, maka nilai yang ditunjukkan oleh jarum tensi adalah nilai tekanan sistole
  • Lepas terus skrup pengunci sampai suara detakan pada stetoskop benar-benar hilang. Suara detakan terakhir yang terdengar merupakan nilai tekanan diastole.
Praktik mengukur tensi darah
Nilai sistole merupakan nilai atas, rentang waktu ketika jantung berkontraksi. Nilai normal untuk sistole adalah 120 mmHg.
Nilai diastole merupakan nilai bawah, rentang waktu ketika jantung berelaksasi. Nilai normal untuk diastole adalah 80 mmHg.
Tensi normal seseorang pada umumnya adalah 120/80. Jika tensi seseorang menunjukkan nilai 140/100 atau lebih, maka bisa dikatakan orang tersebut menderita hipertensi (tekanan darah tinggi). Sedangkan jika tensi seseorang menunjukkan nilai 100/60 atau kurang, maka bisa dikatakan orang tersebut menderita hipotensi (tekanan darah rendah).

Tentunya jika kita mengetahui hal-hal yang sudah diulaskan seperti di atas, kita tidak akan kesulitan lagi menentukan seseorang sedang dalam kondisi bagaimana. Sehingga kita bisa melaksanakan tindakan lanjut sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Maka tidak ada salahnya bukan jika kita belajar jadi dokter muda mulai dari sekarang? :)

0 komentar:

Poskan Komentar