Senin, 02 April 2012

Survival Dalam Latgab Asa Bati Saraka




Latgab Asa Bati Saraka. Sebuah istilah yang merupakan gagasan terwujudnya kegiatan bersama ini. Merupakan sebuah singkatan dari Latihan Gabungan Antar Saka Bahari, Bakti Husada, dan Wirakartika. Asa di sini juga memiliki arti harapan, dengan maksud agar ketiga Saka ini memiliki sebuah tujuan dan cita-cita ke depan yang mampu dijadikan pandangan maju untuk mencapai kehidupan Pramuka yang lebih baik dimulai dari  keeratan hubuan ketiga Saka ini. Gagasan inilah yang mendasari seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada Hari Minggu tanggal 1 April 2012 di hutan Tembakur, sebuah wilayah di sebelah utara Kecamatan Pesanggaran.
Berbagai rangkaian kegiatan sukses terlaksana dengan dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak terutama kekompakan para Dewan Saka dan senior dari ketiga Saka tersebut. Dukungan andalan dan Kwartir Ranting juga turut menjadikan kegiatan ini mencapai 100% mulai awal hingga akhir.
Setelah melalui tahap perencanaan selama kurang lebih 1 bulan, kegiatan ini mampu mencapai hasil akhir dengan cukup memuaskan. Secara singkat susunan panitia kegiatan ini dijabat langsung oleh Dewan Saka dari ketiga Saka yang ada di Kwartir Pesanggaran dan Siliragung. Ketua panitia dijabat kembali oleh Kak Fajriyan Hardiana, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai ketua panitia pula pada kegiatan latgab tahun baru lalu. Dibantu oleh koordinator lapangan, Kak Samsul dan penanggung jawab Kak Saiful AR yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia Pramuka, pengalaman-pengalaman lalu mampu mencadi acuan bagi suksesnya kegiatan ini.

Mengapa Harus Mengambil Tema Survival?
Survival menjadi pilihan bagi tema kegiatan ini. Sebab jika kita tinjau dari pengertian dasarnya yakni “pola bertahan hidup dari keadaan paling buruk”, tema ini sudah cukup mewakili materi SKK dari masing-masing Saka. Jika kita telaah lebih luas lagi, survival ini ternyata tidak hanya dipakai pada saat kita berada di alam saja. Seluruh aspek mampu tercakup dengan satu istilah ini. Beberapa di antaranya dicontohkan bahwa survival itu bisa kita terapkan pada sebuah organisasi ketika organisasi itu dalam keadaan kritis, kehilangan pemimpin organisasi, terpecah-belahnya anggota organisasi, atau ketidakkompakan masing-masing anggota organisasi yang menyebabkan organisasi tersebut di ambang kehancuran. Dalam lingkungan keluarga survival ini mampu kita terapkan ketika kondisi keluarga kita hancur, broken home, dan lain sebagainya. Dicontohkan pula pada sebuah perusahaan yang sedang mengalami kabangkrutan, maka prinsip-prinsip survival mampu kita terapkan ke arah tersebut. Dan masih banyak lagi penerapan yang bisa kita pakai pada berbagai keadaan dalam kehidupan kita.
Nah, jadi tidak salah jika tema survival ini menjadi pilihan akhir hasil kesepakatan dari seluruh panitia dan jajaran senior yang mendukung kegiatan ini. Apalagi dari Saka Bahari dan Wirakartika memang memiliki SKK Survival dari salah satu kridanya. Bakti Husada? No problem. Survival bisa diarahkan ke aspek lain yang tidak harus mengacu pada SKK.

Proses Kegiatan
Kegiatan Latgab Asa Bati Saraka ini terbagi menjadi beberapa sesi yang seluruhnya merupakan rangkaian kegiatan bertema survival. Diawali dengan checking peserta dan upacara pembukaan, kegiatan ini berlanjut sesuai dengan pembagian pos materi sesuai dengan perencanaan kegiatan. Sedikitnya ada 6 pos materi yang merupakan pembagian dari materi ketiga Saka. Secara rinci pembagian pos materi ini adalah sebagai berikut:

Sea and Jungle Survival
Bidang materi: Saka Bahari
Pembekalan survival
Merupakan pembekalan awal kepada peserta kegiatan latgab tentang berbagai teknik cara bertahan hidup di laut dan di hutan. Secara umum hampir sama, namun pengenalan lokasi dan alternatif apa saja yang harus kita lakukan tidak sama. Survival di laut meliputi pengenalan medan air, makanan apa saja yang bisa kita makan ketika berada di laut, tindakan apa saja yang harus kita lakukan ketika berada di laut saat dalam kondisi kritis, dan sebagainya. Hal ini dapat kita terapkan ketika kita dalam kondisi seperti saat hanyut, kecelakaan laut, dan lain sebagainya. Beberapa hal perlu diperhatikan, sebab jika kita sama sekali tidak memiliki bekal bagaimana saat dalam kondisi tersebut maka bisa saja kita mengalami kematian.
Sedangkan survival di hutan meliputi pengenalan makanan apa saja yang bisa kita konsumsi ketika kita dalam kondisi terburuk di hutan, teknik mencari air, dan sebagainya. Beberapa makanan dicontohkan seperti ular dan belalang bisa kita makan ketika dalam kondisi terdesak, namun harus dengan teknik tertentu untuk mandapatkan makanan tersebut agar terhindar dari racun/ bisa. Berbagai tumbuhan hutan juga mampu jadi alterntif ketika kita benar-benar menerapkan prinsip survival.

Navigasi Darat
Bidang materi: Saka Wirakartika
Materi navigasi darat<.td>
Sudahkah anda tahu apa yang harus kita lakukan ketika kita tersesat di hutan? Ya jawabannya adalah STOP. Merupakan singkatan dari Sit down, Thinking, Observe, Planning. Keempat rincian tersebut adalah teknik bagaimana kita agar bisa keluar dari kondisi tersesat. Tata urutannya sudah jelas. Namun, jika kita memiliki bekal mampu membaca medan sekitar tempat kita tersesat, maka hal tersebut tidak akan bertahan lama. Jalan keluar akan segera kita temukan.
Navigasi darat merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Pembacaan medan yang tepat akan mempercepat kita menemukan jalan keluar. Dengan hanya berbekal kompas dan peta wilayah saja, teknik ini mudah dilakukan. Mengamati tempat-tempat yang ada pada peta seperti gunung, bukit, lembah, sungai, dan sebagainya dengan mencocokkannya dengan kondisi di sekitar tempat kita berada. Maka dalam waktu singkat kita akan tahu di mana posisi kita dan jalan kluar akan segera kita temukan.

Repling
Bidang materi: Saka Wirakartika
Kegiatan repling
Sebuah sub materi dari krida mountaineering di Saka Wirakartika. Teknik turun tebing dan bukit dengan menggunakan satu perangkat alat repling akan memudahkan kita mengarungi berbagai medan di hutan maupun di daerah pegunungan. Waktu pun akan dapat kita persingkat jika teknik ini sudah kita kuasai. Maka semboyan “nothing’s impossible” pun akan selalu berlaku bagi kita.
Cukup berbekal figure X, carabiner O, tali karmantel, safety webing, dan sarung tangan maka kegiatan repling ini dapat kita laksanakan. Dalam survival, repling ini bisa kita gunakan ketika kita menemui jalan buntu. Ketika kita dihadapkan pada jurang ataupun tebing tinggi, maka bukan hal yang tidak mungkin kita lalui jika kita sudah menguasai teknik repling.

Dapur Umum Makanan Darurat
Bidang materi: Saka Bakti Husada
Suasana di pos DU makanan darurat
Ketika kita berada di hutan dan kita dihadapkan pada makanan-makanan yang sebetulnya bisa dimakan namun butuh sebuah teknik pengolahan, maka DU makanan daruratlah yang bisa kita terapkan. Sebetulnya DU ini sendiri lebih tepat diterapkan ketika kondisi bencana alam sehingga tenda darurat perlu didirikan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan tubuh akan asupan makanan. Namun dalam survival pun juga bisa kita terapkan, mengingat asupan zat-zat makanan penting seperti karbohidrat, protein, mineral, vitamin, dan lemak tetap kita butuhkan untuk proses bertahan hidup.
Secara umum DU makanan darurat harus memenuhi beberapa persyaratan seperti makanan yang diolah harus memenuhi standar gizi meskipun sederhana, tempat DU yang datar, dekat dengan air, jauh dari bencana, hingga teknik memasak dan pengorganisasian yang seluruhnya butuh prosedur yang jelas agar DU tetap berjalan lancar. Setidaknya teknik pemenuhan gizi tubuh akan sumber tenaga harus terpenuhi jika kit` sudah mengenal DU.
Dalam kegiatan latgab ini, sengaja panitia hanya memberikan ubi sebagai konsumsi kepada peserta. Dengan hanya berbekal kaleng, peserta diharuskan mampu memasak ubi tersebut sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan sehingga mampu memenuhi kebutuhan sangganya akan asupan energi. Hasil akhir peserta akan memiliki kemandirian yang matang dan mampu menghadapi kondisi tersulit dengan berfikir cerdas memanfaatkan berbagai alternatif yang ada di lingkungan sekelilingnya.

Rakit Bahan Bambu
Bidang materi: Saka Bahari
Rakit bahan bambu
Kali ini akan diberikan bekal kepada peserta jika suatu saat dalam keadaan survival mereka menemui medan sungai sebagai jalan utama untuk lolos dari ketersesatan. Alternatif ini disampaikan oleh Saka Bahari berupa pembuatan rakit berbahan dasar bambu. Mengingat bambu mudah didapat di alam dan merupakan alternatif paling mudah untuk mengatasi kesulitan tersebut.
Rakit sederhana ini hanya cukup membutuhkan bambu dan tali penguat saja agar susunan bambu tidak terpisah-pisah. Cara membuatnya hanya tinggal menjajarkan bambu dengan susunan arah yang sama, kemudian meletakkan dua atau tiga bambu dengan susunan melintang masing-masing pada kedua ujung dan tengah susunan bambu awal, kemudian mengikatnya dengan tali penguat. Sebuah rakit sederhana bisa kita gunakan untuk mengarungi sebuah sungai dengan aliran tenang.
Bagaimana untuk sungai dengan aliran deras? Dua buah ban pelampung perlu kita tambahkan pada bagian bawah rakit agar rakit mampu mengapung lebih baik dan mampu mengarungi medan yang lebih deras. Susunan bambu pun bisa kita atur lebih sesuai lagi jika kita menghadapi medan sungai yang benar-benar deras. Pengurangan jumlah bambu akan lebih baik.
Selain itu di pos materi RBB ini dijelaskan pula kode-kode yang harus dipahami oleh peserta sebagai sarana komunikasi lalu lintas di laut. Sehingga wawasan pun akan lebih banyak didapat oleh peserta latgab untuk penerapan di kehidupan nyata.

Pertolongan Pertama Gawat Darurat
Bidang materi: Saka Bakti Husada

Materi PPGD

Bagaimana jika kemungkinan lebih buruk terjadi ketika kita dalam keadaan survival? Pertolongan pertamalah jawabannya. Memang ada beberapa hal yang perlu diwaspadai utuk menghadapi kemungkinan paling buruk ketika survival. Saat kondisi tubuh drop, maka kontrol gerakan dan gerak tubuh kita akan berkurang. Dehidrasi akan memperparah keadaan jika kita tak tahu bagaimana cara menanganinya. Kondisi otot-otot tubuh yang kaku akan menimbulkan kram yang lebih memperparah keadaan. Sehingga berbagai kecelakaan pun akan menimpa siapa saja dalam kondisi survival karena kondisi tubuh yang memang tak mampu kita kendalikan. Jatuh, kesleo, memar, pingsan, bahkan patah tulang.

Seluruh kemungkinan buruk ini tak akan terjadi jika kita mampu mengatasinya sejak awal dengan prinsip-prinsip yang ada pada PPGD. Saat dehidrasi maka pertolongan pertama yang harus diberikan adalah mengganti ion tubuh yang hilang. Cairan pengganti ion tubuh yang paling mudah didapatkan di alam adalah air kelapa. Kandungan air kelapa yang memang kaya akan mineral tersebut mampu dengan cepat memulihkan kondisi tubuh kita dari keadaan dehidrasi.

Ketika kaki sudah mulai lunglai karena proses survival yang terlalu lama, maka alternatif untuk pertolongan pertamanya adalah dengan memanfaatkan TOGA yang banyak terdapat di alam. Kencur adalah salah satu tanaman obat yang mampu mengatasi keadaan tersebut. Cukup dilumatkan dan dicampur dengan sedikit air lalu dilumurkan pada kaki, maka otot-otot kaki akan merenggang dan dapat menghindari terjadinya kram, kaku otot, atau bahaya-bahaya lain. Lebih baik lagi jika terdapat campuran beras. Untuk bengkak atau lebam, kencur dan beras cukup dilumatkan tanpa dicampur air. Dibubuhkan pada bengkak atau lebam beberapa saat, lalu diambil kembali. Hal tersebut cukup efektif untuk mengurangi keadaan semacam itu.
Untuk korban patah tulang, maka teknik bidai menjadi alternatif PPGD. Berbagai teknik pembidaian memiliki fungsi masing-masing tergantung dari cedera patah tulang yang dialami.
Bagaimana dengan korban yang terjatuh kemudian pingsan? Langkah pertama adalah melonggarkan seluruh pakaian dan aksesoris yang menempel pada tubuhnya kemudian memberinya bau-bauan yang menyengat seperti minyak kayu putih. Saat berada di alam kita bisa memakai daun sembukan sebagai alternatif. Jika kondisi korban lebih parah seperti kehabisan nafas, maka kondisi tersebut kita kategorikan dalam kondisi kritis. Resusitasi dengan cara pijat jantung dan nafas buatan harus kita berikan sesegera mungkin. Sebab keterlambatan sedikit saja akan mampu menghilangkan nyawa korban.
Keseluruhan teknik-teknik tersebut merupakan rangkaian tindakan yang harus kita lakukan untuk menangani berbagai keadaan korban sesuai dengan kemungkinan buruk survival. Sudah seyogyanya peserta Latgab Asa Bati Saraka ini memahami hal tersebut.

Penutup Kegiatan
Upacara penutupan menjadi momen akhir kegiatan latgab ini. Dengan wajah puas yang tergambar dari seluruh peserta, panitia, dan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut, akhirnya kegiatan Latgab Asa Bati Saraka ini mencapai hasil maksimal yang patut dibanggakan. Diharapkan kegiatan semacam ini akan terus menjadi momen yang perlu dilestarikan agar hubungan antar Saka semakin erat dan kehidupan Pramuka Indonesia akan jauh lebih baik.
Kebersamaan Bati Saraka
Semangat terus Bati Saraka! Mari wujudkan Gerakan Pramuka bisa dengan Satuan Karya!
Salam Pramuka!!!


Video Kegiatan Latgab
Dapur Umum Makanan Darurat I




Dapur Umum Makanan Darurat II 

Repling
 

0 komentar:

Poskan Komentar