Selasa, 17 April 2012

Penempuhan Badge Krida (Tahap I)


Sejak pkl. 09.00 kegiatan ini sudah memulai rintisan dengan didahului pembekalan seputar krida dan SKK yang terdapat dalam masing-masing krida beserta segala hal yang terkait di dalamnya. Setidaknya gambaran-gambaran rinci pada acara pembukaan tersebut mampu memberikan prospek ke depan yang lebih jelas terhadap program kerja yang akan dilaksanakan oleh masing-masing krida.
Krida ini sendiri merupakan pembagian kelompok kecil dalam sebuah satuan karya. Setiap krida memiliki SKK (Syarat Kecakapan Khusus) yang bisa ditempuh untuk mendapatkan TKK (Tanda Kecakapan Khusus). Dari keenam krida yang ada dalam Saka Bakti Husada, kali ini kami membentuk 5 krida yang terdiri dari krida bina lingkungan sehat, krida bina keluarga sehat, krida penanggulangan penyakit, krida bina gizi, dan krida bina obat. Tersisa krida bina PHBS yang masih belum bisa kami tempuh mengingat terbatasnya kuantitas anggota.
Dua macam sistem pengujian dipakai dalam kegiatan ini menyesuaikan dengan pengertian dasar satuan karya yang di antaranya merupakan media pengembangan bakat dan minat peserta didik. Untuk itu, dalam kegiatan penempuhan badge krida I ini, kegiatan uji bakat mendominasi seluruh rangkaian kegiatan yang terdiri dari kegiatan praktik dan tanya jawab. Sedangkan uji minat akan kami laksanakan pada agenda berikutnya yakni penempuhan badge krida II dengan uji tulis menjadi agenda inti.
Beberapa kegiatan praktik praktis telah terlaksana sesuai dengan agenda kerja, yakni: 
  • Pembuatan pestisida alami pada pos krida bina lingkungan sehat 
Membuat pestisida alami
Kegiatan ini merupakan pengamalan dari salah satu SKK dalam krida bina lingkungan sehat yakni SKK pengamanan pestisida. Secara umum SKK pengamanan pestisida ini mencakup berbagai tindakan-tindakan aktif mengamankan bahan-bahan kimia yang terkandung dalam pestisida agar tidak terjangkau dengan makanan, mencemari lingkungan, kontak negatif dengan tubuh, dan berbagai bahaya lain. Dengan adanya usaha pembuatan pestisida organik ini diharapkan hal-hal negatif dari pestisida kimia tersebut dapat teratasi dengan adanya rolling dengan pestisida organik.
Pestisida organik ini merupakan bahan-bahan pembasmi hama maupun gulma yang terbuat dari bahan-bahan alami. Beberapa bahan dicontohkan dalam kegiatan ini yakni tembakau, bawang merah, bawang putih, daun pepaya, dan sebagainya.
  • Obat nyamuk tradisional pada pos krida penanggulangan penyakit
Pembuatan obat nyamuk tradisional
Demam berdarah dan malaria merupakan beberapa SKK yang terdapat dalam krida penanggulangan penyakit. Tindakan preventif merupakan usaha efektif untuk mengatasi wabah dari penyakit ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan yakni dengan membiasakan diri hidup sehat, melaksanakan 3M secara rutin, dan berbagai usaha untuk memberantas sarang nyamuk. Ketika pemberantasan sarang nyamuk itu pun tidak mencapai hasil yang maksimal maka tentunya beberapa ekor nyamuk masih menjadi momok yang menakutkan bagi diri maupun lingkungan. Nah, berlatar belakang dari kondisi itulah kegiatan ini dilaksanakan.
Dengan kita mengetahui cara memanfaatkan berbagai bahan alam yang ada di lingkungan sekitar kita, tentunya wabah seperti apapun tidak akan memberikan efek yang serius bagi kita. Pencegahan sekaligus penanggulangan penyakit juga terlaksana dengan adanya pengetahuan yang mantap. Cukup dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti kulit jeruk, serai, daun pepaya, daun sirih, bunga kluwih, dan berbagai bahan sederhana lainnya, obat penangkal nyamuk sudah bisa kita buat. Mau tau caranya? Ikut Saka Bakti Husada ya...:)
  • Pemanfaatan toga pada pos krida bina obat

Membuat obat dari toga
Sudah tau bukan bahwa setiap obat-obatan kimia pasti memiliki efek samping? Mulai dari kantuk, gangguan pencernaan, ketergantungan, hingga alergi dapat terjadi jika kita mengkonsumsi obat-obatan kimia. Belum lagi harga yang kurang terjangkau bagi sebagian kalangan. Obat-obatan palsu pun kini juga kian marak yang secara fisik sangat sulit sekali dibedakan. Nah, jika memang ada obat yang aman dikonsumsi, tanpa efek samping, dan terjangkau bagaimana?
Menikmati toga hasil racikan sendiri
Toga merupakan satu alternatif yang menjawab semua fenomena tersebut. Khasiat alami yang sudah sejak dulu dikenal oleh masyarakat Indonesia, mampu mengobati berbagai penyakit tanpa efek samping apapun. Seluruhnya aman dikonsumsi dalam kondisi bagaimanapun. Bahkan selain sebagai obat, toga juga dapat berfungsi sebagai penjaga kestabilan kesehatan tubuh jika kita mau mengkonsumsinya secara rutin.
Beberapa toga menjadi bahan kegiatan uji krida bina obat ini, di antaranya jahe, lengkuas, kunyit, kencur, dsb. Seluruh bahan-bahan tersebut di dampingi bahan-bahan tambahan seperti asam, gula jawa, beras, dll. Proses uji krida menjadi lebih menarik ketika peserta didik mampu menikmati racikan toga hasil olahannya sendiri.
  • Menjadi ibu yang baik pada pos krida bina keluarga sehat
Praktik cara merawat bayi
Pentingnya kesehatan keluarga terutama kesehatan ibu dan anak menjadi topik utama pada uji krida bina keluarga sehat ini. KIA yang merupakan pedoman vital bagi ibu dan anak yang diasuhnya merupakan syarat penting bagi setiap ibu yang wajib diketahui. Ibu yang baik berdasarkan KIA tersebut adalah ibu yang mampu mengetahui keadaan anak/ bayi, mengetahui bagaimana cara merawat, bagaimana memberi asupan gizi yang benar, dan sebagainya. Dasar-dasar yang tidak dikuasai secara matang sebagai seorang ibu akan sangat mengkhawatirkan bagi anak yang sedang diasuh atau dikandungnya.
Bentuk praktik berupa cara merawat bayi diterapkan dalam kegiatan pada pos krida bina keluarfa sehat ini. Kegiatan ini cukup efektif diterapkan mengingat adik didik Saka Bakti Husada Kwarran Pesanggaran seluruhnya adalah putri. Antusias tercipta ketika kegiatan berlangsung. Kesan lucu dan lugu tergambar dari bagaimana cara setiap adik didik menerapkan apa yang tergambar di benaknya sebagai seorang ibu. Namanya juga belajar. Semua diawali dari yang tidak bisa agar menjadi bisa. Setidak-tidaknya langkah dini ini mampu menjadi bekal bagi adik didik sebelum nantinya suatu saat mereka betul-betul bertindak sebagai seorang ibu secara nyata.
  • Perencanaan menu pada pos krida bina gizi
Proses perencanaan menu
Menu yang baik adalah jika menu tersebut mengandung gizi seimbang yang dibutuhkan oleh tubuh. Asupan yang kurang maupun berlebihan juga akan berdampak buruk bagi kesehatan.
Secara umum gizi seimbang yang dibutuhkan tubuh ialah mengandung zat sumber energi, pembangun, dan pengatur. Keseluruhannya terdapat pada zat-zat makanan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, lemak, dan air. Karbohidrat dan lemak berfungsi sebagai sumber energi, protein sebagai zat pembangun, vitamin dan mineral sebagai zat pengatur, dan air berfungsi membantu zat-zat tersebut dalam proses pencernaan yang pada beberapa zat makanan lemak juga ikut berperan.
Berpedoman pada dasar tersebut, dewan saka krida bina gizi memilih perencanaan menu sebagai SKK yang bisa diujikan. Dengan memilih berbagai jenis makanan maka makanan tradisional “kolak” menjadi alternatif mudah yang bisa diterapkan. Karbohidrat yang terletak pada ketela sebagai bahan utama, vitamin pada buah pisang juga sebagai bahan utama, mineral pada gula merah dan garam, lemak pada santan, dan air sebagai pelarut bahan-bahan yang ada. Jika memang menginginkan protein ikut melengkapi kandungan gizi makanan tersebut, maka bisa ditambahkan kacang hijau ke dalamnya.
Seluruh bahan dicampur sesuai dengan takaran tepat pada perencanaan menu. Kandungan karbohidrat, vitamin, mineral, dan zat-zat lainnya harus seimbang, tidak boleh berlebihan. Dengan begitu maka menu seimbang akan mampu kita peroleh hanya dengan mengkonsumsi makanan yang sederhana dan praktis.

Dengan demikian, maka berakhirlah seluruh rangkaian kegiatan penempuhan badge krida tahap I. Tahap II segera terealisasi pula. Laskar Saka Bakti Husada Kwarran Pesanggaran, tetap semangat dan selalu optimis! Sehat ada karena SBH jaya!

0 komentar:

Poskan Komentar