Selasa, 28 Februari 2012

Cegah DB Dengan Penyuluhan 3M ke Masyarakat

Memasuki pergantian musim mulailah kita harus berbenah diri menyiapkan segala hal terutama kesehatan fisik agar terhindar dari berbagai penyakit yang banyak sekali ditimbulkan dari pergantian keadaan ini. Pancaroba menjadi momok bagi siapapun karena pada saat tersebut bibit-bibit penyakit berkembang pesat mencapai klimaks dan akan menjangkit kepada siapa saja yang tak mampu membendung diri dari dalam maupun dari luar. Salah satu dari berbagai penyakit yang akan timbul adalah demam berdarah.

Pembekalan oleh Kak Muklas, A.Md.
Demam berdarah sampai sekarang masih menjadi masalah besar yang masih terus timbul di Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypti ini kebanyakan menyerang penduduk dengan daerah padat dan banyak genangan air. Berbeda dengan nyamuk-nyamuk pada umumnya, Aedes aegypti cenderung menyukai air-air bersih yang tidak langsung bersentuhan dengan tanah sebagai tempat perkembangbiakan jentik-jentiknya. Kaleng-kaleng bekas, tong, pelepah daun pisang, hingga bak mandi jika kita tidak rutin membersihkannya setiap seminggu sekali.


Demam berdarah yang tidak ditangani secara serius juga akan mengakibatkan kematian kepada korban yang sudah terjangkit. Apalagi jika jenis demam berdarah yang terjangkit adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Cukup mengerikan memang, namun sebetulnya semua dapat dicegah jika kita mau bertindak untuk membiasakan pola hidup sehat. Nah, inilah yang sampai sekarang masih menjadi problem sebagian besar masyarakat. Masyarakat kurang tanggap terhadap kebersihan lingkungannya. Mereka cenderung menerima keadaan sekitar apa adanya dan akan mulai bertindak jika memang sudah terjangkit berbagai kasus. Lalu bagaimana sih sebetulnya cara membuka mata dan fikiran masyarakat agar sadar dan tanggap terhadap lingkungannya?

Kami Saka Bakti Husada Kwartir Ranting Pesanggaran berusaha menumbuhkan pola hidup sehat masyarakat melalui kegiatan penyuluhan. Kegiatan ini didasarkan pada perihal-perihal seperti telah terurai di atas. Sebagai kader kesehatan, Saka Bakti Husada setidaknya harus mampu memberikan pengetahuan preventif sebagai tindakan pencegahan sebelum wabah lebih besar akan timbul di kemuadian.

 Proses wawancara seputar K3
Tepatnya hari Minggu, 26 Februari 2012 seluruh anggota Saka Bakti Husada Kwarran Pesanggaran terjun langsung ke masyarakat dengan memberikan penyuluhan dari rumah ke rumah. Didampingi Dewan Saka, kegiatan ini ternyata cukup mendapat respon baik dari masyarakat. Tidak hanya penyuluhan DB saja yang diberikan, namun juga pola hidup sehat yang benar dengan berpedoman pada K3 (Kartu Kesehatan Keluarga).

Kegiatan diawali dengan pemberian bekal pengetahuan seputar DB dan K3 oleh Pimpinan Saka Bakti Husada, Kak Muklas A.Md, G. Menguras bak mandi setiap 1 minggu sekali, mengubur barang-barang bekas, menutup tempat penampungan air. Itulah 3M dasar yang sebetulnya seluruh lapisan masayarakat sudah tahu, namun sangat enggan untuk melaksanakan karena tidak ada motor penggerak yang mampu mengingatkan dan mengajak untuk melaksanakan.

Tinjau sanitasi untuk mengetahui adanya jentik-jentik nyamuk
Setelah pembekalan usai, penyuluhan pun dilaksanakan. Kegiatan ini mengambil lokasi di Dusun Krajan Desa Pesanggaran. Setidaknya 5 RT menjadi obyek cakupan kegiatan ini. Poin-poin dalam K3 menjadi bahan wawancara sekaligus penyampaian informasi kepada masyarakat. Di antaranya meliputi masalah kepadatan perumahan, sistem ventilasi, sistem pembuangan limbah dan pengolahan sampah, tindakan pemberantasan jentik nyamuk, kebiasaan merokok, perhatian terhadap balita dan ibu hamil, dan berbagai poin-poin kesehatan yang lain. Bersamaan dengan penyampaian poin-poin K3 tersebut, penyuluhan DB dilaksanakan.

Antusias masyarakat mulai nampak ketika proses penyuluhan ini berlangsung. "Bagus sekali. Bagaimana jika untuk ke depannya diberikan penyuluhan masalah cikung?" usul salah seorang warga. Satu ide lagi muncul. Memang di daerah tersebut sempat booming penyakit cikung hingga sebagian besar warga terjangkit. Walau saat ini sudah dalam tahap antiklimaksnya namun rasa trauma ternyata masih menghantui fikiran para warga ketika pancaroba tiba. Jadilah satu pekerjaan rumah lagi bagi kami untuk dapat memberikan penyuluhan lagi suatu saat nanti.
Proses kegiatan penyuluhan

Hingga kegiatan usai, berbagai kesimpulan muncul dari hasil penyuluhan ini. Sebagian besar warga ternyata masih belum menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-harinya. Alat-alat mandi dan sumber air yang digunakan untuk proses kegiatan sehari-hari juga belum memenuhi kriteria sehat. Berikut beberapa hasil kesimpulan mengenai kurangnya standarisasi kesehatan masyarakat di lingkungan tersebut:
- Banyak warga yang belum menggunakan jamban standard untuk buang air besar
- Pembuangan limbah sembarangan
- Pemberantasan jentik-jentik nyamuk belum terlaksana
- Penggunaan air yang tidak bersih untuk mandi dan memasak
- Pengolahan sampah yang belum maksimal
- Kebiasaan merokok masih menjadi pola hidup yang buruk
- Kepadatan perumahan yang tidak terkontrol

Cukuplah sudah hal-hal tersebut menjadi fenomena yang perlu segera dibenahi agar kesehatan masyarakat terjamin. Bukan harus selalu dari instansi kesehatan yang melakukan penyuluhan secara terus-menerus, namun sejatinya sehat itu berasal dari diri kita sendiri. Mari kita mulai dari lingkungan keluarga kita untuk dapat terus dikembangkan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Salam sehat!!!
SBH Pesanggaran...

0 komentar:

Poskan Komentar