Minggu, 27 November 2011

Penempuhan Badge Krida


Gambar Krida Saka Bakti Husada
Satuan terkecil dalam Perindukan Siaga disebut barung. Satuan terkecil dalam Pasukan Penggalang disebut regu. Satuan terkecil dalam Ambalan Penegak disebut sangga. Satuan terkecil dalam Racana Pandega disebut reka (sebenarnya dalam Pramuka Pandega tidak ada pembagian kelompok kecil, namun pembentukan Reka Pandega diperlukan pada saat kondisi-kondisi tertentu).


Lapor! Uji krida siap!!!
Begitulah sistem pembagian kelompok yang ada di Gugus Depan. Begitu pula dalam satuan karya. Di dalam satuan karya juga dibentuk kelompok-kelompok kecil yang disebut krida. Setiap krida terdiri dari 5 – 10 orang. Yang membedakan kelompok kecil ini dengan yang ada di Gugus Depan adalah mengenai cakupan materi yang terdapat dalam kelompok kecil tersebut. Jika Barung, Regu, Sangga, dan Reka hanyalah semata-mata digunakan untuk penyederhanaan satuan besar saja, namun Krida bukan hanya digunakan untuk penyederhanaan satuan besar saja. Melainkan akan mengacu pada SKK (Syarat Kecakapan Khusus).
Setiap krida memiliki beberapa buah SKK yang masing-masing merupakan acuan materi sekaligus syarat kecakapan yang bisa dicapai oleh masing-masing anggota Satuan Karya.

Mengingat begitu pentingnya pembagian krida ini, maka Saka Bakti Husada Kwarran Pesanggaran mengadakan penempuhan krida yang diwujudkan dalam bentuk uji krida. Sistem perjari menjadi pola untuk pelaksanaan kegiatan ini. Kegiatan ini bertujuan  mewujudkan terbentuknya 4 krida dari total 6 krida yang ada di Saka Bakti Husada, yakni Krida Bina Lingkungan Sehat, Krida Bina Keluarga Sehat, Krida Penanggulangan Penyakit, dan Krida Bina Gizi. Krida lainnya yang tidak bisa dicapai adalah Bina Obat dan Bina Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu uji krida ini juga digunakan untuk menentukan ketua krida dan wakil ketua krida dari masing-masing krida yang ada.

Uji tulis di alam terbuka
Keseluruhan sistem pengujian dilakukan secara personal karena digunakan untuk mengetahui potensi masing-masing peserta didik. Sehingga hasil akhir yang dicapai adalah benar-benar obyektif sesuai dengan kemampuan peserta didik terhadap masing-masing krida yang ada.

Uji tulis menjadi tahap pertama. Uji tulis ini digunakan untuk mengetahui kemampuan dasar peserta didik secara teori. Selanjutnya uji materi krida dilakukan pada tiap pos dengan rincian kegiatan sebagai berikut:




1.      Krida Bina Keluarga Sehat
Penguji Krida Bina Keluarga Sehat
Uji lisan menjadi langkah awal pengujian krida. Beberapa pertanyaan dilontarkan untuk menguak seluruh potensi yang ada dalam diri peserta didik. Selanjutnya uji praktik menjadi tolok ukur terhadap segala sesuatu yang telah dibeberkan peserta didik dari uji lisan tersebut. Uji praktik yang dipakai adalah mengenai pembuatan larutan gula dan garam sebagai pengganti oralit. Mengingat di dalam SKK Krida Bina Keluarga Sehat membahas penyakit diare sebagai penyakit utama anak. Penyakit diare pada anak sangat perlu diwaspadai karena kekurangan cairan tubuh yang berlebihan saat diare dapat menyebabkan kematian.
Pembuatan oralit



2.      Krida Bina Lingkungan Sehat
Penguji krida Bina Lingkungan Sehat
Praktik mengenai pembuatan air bersih dengan sistem penyaringan sederhana menjadi pokok materi pada pos ini. Sistem penyaringan air tradisional menjadi pilihan karena sistem penyaringan ini adalah yang paling mudah dibuat dibandingkan sistem-sistem penyaring lain seperti aerasi, SPL, sistem penyaringan keramik, dll. Hanya dengan menggunakan bahan-bahan sederhana seperti pasir, ijuk/ sabut kelapa, arang tempurung kelapa, kerikil, dan batu sistem penyaringan ini dapat dibuat. Mudah dilakukan dan diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari karena bahan-bahan pembuatan sistem penyaringan ini senantiasa berdampingan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Pembuatan sistem penyaringan air sederhana

3.      Krida Bina Penanggulangan Penyakit
Penguji Krida Bina Penanggulangan Penyakit
Berbagai penyakit berbahaya yang sering diderita masyarakat pada umunya menjadi bahan uji lisan di pos ini. Penyakit-penyakit yang tersebut sesuai dengan SKK adalah malaria, demam berdarah, diare, TB paru, anjing gila, kecacingan, dan HIV/AIDS. Dua SKK lain yang termasuk dalam krida ini adalah imunisasi dan gawat darurat. SKK terakhir menjadi bahan uji praktik yang sesuai. PPGD adalah istilah yang digunakan bagi seorang Bakti Husada untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan sebelum dilakukan pertolongan lanjutan oleh tim medis yang berwenang. Penguasaan materi ini harus betul-betul dipahami jika peserta didik menginginkan Krida Bina Penanggulangan Penyakit menjadi krida pilihannya.
Pertolongan pertama gawat darurat


















4.      Krida Bina Gizi
Penguji Krida Bina Gizi
Beberapa SKK terdapat dalam krida ini. Salah satunya adalah dapur umum makanan darurat yang menjadi bahan uji praktik pada pos terakhir dari keseluruhan pos uji krida yang ada. Layaknya dapur umum, peserta uji krida harus bisa memanfaatkan alam sekitarnya untuk membuat sebuah menu makanan dengan peralatan dan bahan makanan seadanya. Mirip sebuah dapur umum yang ada di posko-posko bencana. Sedangkan uji lisan yang terakhir, materi mengenai kandungan gizi makanan, UPGK dalam Posyandu, dan perencanaan menu menjadi penutup keseluruhan uji krida yang ada.

Dapur umum makanan darurat

















Bersama kita bisa!
Selepas berbagai uji krida yang telah dilakukan, maka hasil akhir obyektif segera terpampang jelas. Penentuan krida sesuai dengan hasil uji telah tercapai. Begitu pula penentuan ketua dan wakil ketua krida.

Akhirnya kegiatan ini ditutup dengan penyematan badge krida dan tanda jabatan sebagai ketua dan wakil ketua krida sekaligus pengucapan Satya Pramuka sebagai ikrar yang tersemat dalam hati setiap subyek bersangkutan untuk senantiasa bertanggung jawab dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan apa yang dicapai.

Pengucapan Satya Pramuka

Semangat terus Saka Bakti Husada Pesanggaran! Sehat ada karena SBH Jaya!!!
Atamma!
Labacco!!
Labarinna!!!
Salam Pramuka!!!!:)

0 komentar:

Poskan Komentar